Monday, January 4, 2010

Tentang Miracle Enzyme

The Miracle of Enzyme, buku kontroversial karangan Hiromi Shinya,MD cukup mematahkan paradigma masyarakat umum tentang kesehatan. Katanya, inti dari kesehatan manusia ada di enzim pangkal. Setiap manusia lahir dengan enzim pangkal yang berlimpah dan akan habis perlahan untuk kegiatan sehari-hari, dan jika enzim itu habis maka berakhir pula hidup kita. Jadi semakin lama kita menjaga enzim pangkal kita, semakin panjang umur kita.

Yang mencengangkan adalah beberapa pola hidup yang selama ini kita anggap sehat ternyata di klaim Shinya tidak baik (menghabiskan enzim pangkal). Inilah daftar mencengangkan itu:
  1. Minum teh dan kopi. Teh dan kopi dibilang kurang baik karena bisa mengikis lapisan di lambung sehingga mengakibatkan maag. Minum teh atau kopi sebaiknya dibatasi 2-3 cangkir tiap minggunya.
  2. Makan daging. Sebisa mungkin hindari daging karena mempercepat pembiakan sel kanker, menyebabkan reaksi alergi, memperberat kerja ginjal dan hati, dan berakibat osteoporosis.
  3. Minum susu. Susu sapi juga bisa menyebabkan kekurangan energi, asma, autisme, dan osteoporosis karena bersifat asam.
  4. Makan malam. Biasakan tidur dengan perut kosong untuk menghindari gangguan pernafasan.
  5. Minum air putih. Kebiasaan minum air putih setelah makan ternyata salah karena akan menghambat pencernaan makanan. Sebaiknya minum air putih satu jam sebelum makan.
Gimana? Cukup masuk akalkah?

Sunday, January 3, 2010

Tentang Olive Oil

Tak perlu rogoh kantung dalam-dalam untuk mendapatkan tubuh impian. Satu trik yang sangat murah yaitu olive oil, dan berlaku untuk total body treatment.

  1. Kuku. Celupkan kuas kuku bersih ke olive oil dan poleskan perlahan ke permukaan kuku satu persatu. Diamkan hingga kurang lebih 5 menit. Cuci dengan air hangat. Kuku kuat, lembut dan bersinar hasilnya. Segera saya coba.
  2. Rambut. Oleskan olive oil ke seluruh permukaan rambut, terutama bagian ujungnya. Bungkus rambut dengan handuk hangat selama 15-20 menit. Cuci rambut dengan satu kali bilasan shampoo. Protein pada folikel kuku dan rambut memiliki struktur yang sama, maka perawatan olive oil pada keduanya akan memberi hasil yang kurang lebih sama. Nah... yang ini sering dicoba... bener-bener manjur!
  3. Kulit. Untuk yang suka berjemur, olive oil bisa menghasilkan the perfect tan. Oleskan olive oil ke tubuh memakai paper towel, handuk kecil, atau kapas. Olive oil akan rata dengan sempurna asal dioleskan ke kulit kering. Agak repot memang, karena selalu saya lapisi lagi dengan sunblock setelahnya, tapi hasilnya ajaib.
  4. Bulu mata. Rumor bilang olive oil bisa membuat bulu mata terlihat lebih tebal dan panjang, Cukup pijat daerah mata dengan menggunakan sedikit olive oil secara teratur. Tunggu hasilnya….
  5. Alis. Penyelamat buat orang yang ketagihan mencabut alis (saya salah satunya) hingga terlalu tipis. Katanya olive oil bisa membuat rambut tumbuh lebih cepat.

Saturday, January 2, 2010

Tentang Gaya Lady Gaga


Sekarang, stands-out atau tampil beda sudah bukan suatu hal yang tabu, bahkan tak jarang, dalam profesi kita sehari-hari juga sudah menjadi syarat pokok bila ingin menarik perhatian bos, client, atau teman. Pilihan dalam berpakaian adalah salah satu cara paling mudah untuk tampil beda dari lingkungan sekitar.

Bereksperimen dalam berpakaian bukan cuma tuntutan bagi Lady Gaga. Wanita yang memulai karirnya sebagai songwriter dari Pussycat Dolls ini bukan hanya bereksperimen dalam berpakaian, tetapi justru mengekploitasi pakaian sebagai jenis ekspresi diri. Mulai dari PVC leggings, shoulder pad blazers, korset, dan hotpants sudah jadi gaya jajahannya bahkan sebelum items tersebut jadi trend.

Tak perlu memakai korset dengan kembang api atau memakai headband berbentuk tanduk rusa seperti gaya yang ditampilkan Lady Gaga, tapi ada beberapa trik yang bisa kita tiru dari gaya berpakaiannya.
Maximize your accessories. Contoh penggunaan kacamata atau belt bertekstur yang dipadankan dengan little black dress.
Use high heels. Heels bisa dipadankan dengan sebagian besar gaya berpakaian, dari dress feminin sampai hot pants.
Give your jeans a break. Lady Gaga selalu menekankan feminimitasnya. Bahkan gaya androgyny pun terlihat girly ditangannya. Coba ganti kombinasi jeans dan t-shit dengan short, t-shirt, suspender, dan heels.
Don’t bother to match all things together. Sedikit tabrak warna masih bisa dibilang halal, tak perlu berdandan satu warna head-to-toe untuk jadi fashionable.
Pay attention to your hair. Rambut yang tertata bisa membuat simple outfit jadi terlihat glamour atau membuat sebuah night dress terlihat ala rock star. Maksud tertata disini bukan hanya terlihat polished neat,  bahkan tatanan bed head juga perlu ”diatur”.
Work your body. Makin banyak pilihan baju yang bisa didapat oleh wanita berbadan langsing. Akui deh... truth hurts...
Know your attitude. Boleh dibilang, baju apapun akan terlihat bagus dengan attitude yang tepat. Percaya diri adalah nomor satu.

* foto diambil dari nowmagazine.co.uk

Tuesday, December 29, 2009

Tentang Pria dan Facial

Peribahasa "pria tunduk diujung kerling wanita" saya rasa benar. Membujuk seorang pria untuk melakukan kegiatan yang dinilai kewanitaan ternyata tak sesulit yang kita kira. Seperti membalikkan telapak tangan, seperti mengambil permen dari tangan seorang balita, seperti mengerlingkan sebelah mata, seperti itulah..... gancil.

Suami saya, seorang pria yang bangga akan ke-priaannya percaya akan filosofi sweat like a pig is manly, burp like crazy sounds tough, therefore considered cool. Dia yang menjadi bahan percobaan saya kali ini. Kepiawaian saya sebagai wanita cerdas (ngakunya) yang sedikit menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan keinginannya, saya rasa perlu diakui.

Kemarin suami saya bangun dengan muka bentol-bentol indikasi calon jerawat yang sedang antre. Ting!! Tiba-tiba terfikir kalau ini saat yang tepat untuk mengajak dia facial, lumayan buat cari teman selama masa penyiksaan 2jam itu.
Jengata: Akang... kok mukanya gitu sii??
Suami  : Kenapa?
Jengata: Ya ampun.... jerawatnya banyak bangeeettt. Beneran deh.... facial yuuu, sebelum tambah parah lho!!
Suami  : Hah?
Jengata: Temenku mukanya ampe bopeng-bopeng gitu lho karena saking parah jerawatnya.
Jengata: Lagian.. tenang ajaa nanti banyak bapak-bapak juga kok ditempat facial langgananku itu.
Suami  : Ok deh
Aha!! Berhasil!! Timing yang tepat, mengajak saat baru bangun tidur, saat belum semua nyawanya terkumpul.

Tahap pertama dari sesi facial dua jam itu berjalan lancar. Sesi kedua yang biasanya menyiksa, semua bakal jerawat dan komedo yang ada di lapisan epidermis kulit muka kita dikeluarkan dengan paksa secara mekanis menggunakan alat congkel yang terbuat dari stainless steel. Suami saya mulai mengerang kesakitan. "Aduh mba... bisa lebih pelan sedikit?" katanya berulang. Hihihihihi.... tawa kurangajar saya beraksi dihati. "Mba... yang bersih yaa... itu yang bagian dahi jangan kelewat!!" kata saya ke mbak yang sedang melayani suami saya. Proses itu berlangsung selama kurang lebih 20menit.

Highlight dari perjalanan facial saya bersama suami adalah saat tahap closure... scrub, masker, dan totok wajah. Lucu, membayangkan si machoman tidur keenakan karena nyamannya baluran masker beraroma timun.

Setelah selesai, dia terlihat fresh dan dengan bangga bertanya "Jadi kapan lagi ni kita facial? Mukaku enteng ni rasanya segerrr.." Lho kok malah dia yg excited yaa?? Otak saya mulai lincah berfikir.. setelah ini saatnya membujuk beli laptop baruu.

Tuesday, November 24, 2009

Tentang Perjuangan di Mata Warganegara Belanda

Seorang tante asal Indonesia yang sekarang jadi warganegara Belanda menceritakan love affairnya dengan Indonesia. Sebagai wanita kelahiran Riau kepulauan 70 tahun silam, terlahir dengan perawakan Tionghoa berbadan mungil. Bapak import dari negeri Tiongkok dan ibu yang cina peranakan merupakan keluarga pengusaha perkebunan terpandang di pulau kecil bernama Tarempa. Salah satu pulau terluar Indonesia, dalam gugusan Anambas. Mari kita panggil dia Nio da Costa.

Besar bersama adik dari ibunya yang menikah dengan arsitek asal Belanda. Arsitek bule itu cukup terpandang pada jamannya, membangun bandara di Tanjung Pinang dan beberapa bangunan kebanggaan Jakarta.

Tante Nio dan satu kakakknya diboyong oleh sang tante (yang lalu resmi menjadi ibunya secara hukum) ke Jakarta, ke salah satu rumah milik papa angkatnya di Jl. Diponegoro. Tak hanya pada jaman ini saja jalan Diponegoro menjadi kawasan elit, kawasan di tengah kota dengan pemandangan danau itu pun sudah elit pada jamannya. Tidak hanya satu, tapi tiga rumah berdekatan menjadi properti milik keluarga baru itu. Tante Nio mengenyam pendidikan ala Belanda dimulai dari Jakarta sampai kebijakan yang dianggap kurang mengenakkan bagi keluarga mereka diberlakukan oleh presiden saat itu, Soekarno. Nasionalisasi. Rumah yang pernah mereka tinggali sekarang jadi milik pribadi lain, berdiri dengan megahnya. Yang lainnya belum diketahui kabarnya. Apakah benar digunakan untuk kepentingan nasional? Mereka tak berani cari tahu.

Eksodus ke Belanda tahun 1958 menjadi jurang pemisah antara tante Nio dan keluarga besarnya di Riau. Kunjungan keluarga sekarang semacam kunjungan liburan yang hanya dapat dilakukan sesekali waktu. Kadang malah jadi suatu perjuangan bagi mereka.

Akhir tahun 1965, keluarga tante Nio berkunjung ke Indonesia melalui gerbang ibukota. Tepat saat G30S/PKI terjadi. Bandara internasional ditutup. Salah satu teman lama dari jemaat Advent memberi tempat untuk berlindung saat Golden dan Rupiah tidak berlaku lagi karena ketegangan Jakarta saat itu. Tante Nio dan kakaknya lalu memilih untuk lari ke tempat mereka sewaktu kecil, Tanjung Pinang. Ketakutan dan kebersamaan dengan kakak dan adik membuat lupa waktu. 3 bulan sudah ia tinggal disana, berdiam. Sampai akhirnya petugas imigrasi mencium keberadaannya dan menahannya karena menyalahgunakan masa berlaku Visa yang seharusnya hanya utuk masa 1 bulan. "Lucu juga kalau dipikir, SD tempat kami sekolah dulu, waktu itu dijadikan tempat tahanan" kata tante Nio.

Pendidikan ala Belanda yang diterimanya menjadi pelicin untuk mengadu nasib di negeri asing itu. Sempat bekerja di perusahaan coklat, dan masa terlama karirnya dia habiskan di perusahaan penerbangan Belanda KLM, hingga pensiun.

Bertemu dengan pemuda Indonesia di Belanda, menikah dan miliki dua anak dari pernikahannya. Kini sebagian besar waktunya dipakai untuk menjaga cucu. Sesekali juga untuk mengunjungi keluarga di Indonesia selama musim dingin dengan menggunakan lifetime freepass dari KLM sebagai hadiah pensiun. Tersenyum setiap kali mengingat Indonesia dan makanannya yang lekker.

Friday, October 23, 2009

Tentang Kuil Sang Tabib

Karena target keliling Southern Phuket Province (Thailand) dengan budget seminim mungkin, saya berhasil menawar harga Tuk tuk dengan harga 400Baht (Rp 120.000). Menurut saya cukup murah, karena harga itu berlaku untuk saya dan 3 orang travel partner untuk perjalanan keliling selama 5jam ke 1 gem-store, 3 kuil lalu mampir di travel agent untuk pesan tiket ferry, dan terakhir di-drop di local restaurant. Nah... bagian pertama ini yang kurang menyenangkan.... ternyata ada kompensasinya untuk mendapatkan harga murah itu, yaitu kita diharapkan untuk mampir (dan syukur kalo bisa membeli perhiasan yang dijual) di toko tersebut. Gem-store itu memberikan free gasolene untuk tuk tuk driver yang mengantarkan turis kesana, no wonder tuk tuknya berharga murah. Untuk memberikan free gasolene itu, juga ada sebabnya. Harga perhiasan disana muahal-muahal.

Tujuan utama kami adalah ke "Temple of the serene light", tapi karena berangkat sore.. kami putuskan untuk stop-over ke Wat Chalong. Wat Chalong adalah kuil yang paling besar dan terkenal dari 29 Budhist Temple di Southern Phuket Province. Terletak sekitar 8km dari Phuket Town, membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit dengan Tuk tuk. Memakan waktu sekitar satu jam bagi kami karena terjebak dengan skenario "tuk-tuk gemstore-scam" tadi.


Kurang tahu pasti kapan didirikannya, tapi kuil ini pernah mengalami restorasi pertama tahun 1837, saat pemerintahan Rama V. Yang membuat kuil ini sohor adalah bhiksu yang pernah tinggal disana yaitu Luang Pho Chaem dan Luang Pho Chuang. Mereka dipercaya mampu menyembuhkan banyak jenis penyakit dari demam hingga patah tulang dengan metode herbal. Bhiksu Luang Pho Chaem juga berperan penting dalam perlawanan para pemberontak daerah saat itu. Pertempuran fisik para pejuang didukung dengan kekuatan spiritual dan obat-obatan herbal oleh para bhiksu sehingga akhirnya pemberontakan pun hilang.

Disini kita bisa numpang diramal ala Buddhis. Dilantai dalam main hall, ada gelas dari bambu yang bisa kita pakai. Lakukan goyangan ritmis pada gelas itu dengan gerakan setengah memutar sambil berdoa sampai salah satu kertas ramalan jatuh. Baca nomor yang tertera di kertas itu. Tukarkan dengan catatan ramalan bernomor sama dilemari sebelah kanan hall. Voila!! Ramalan berbahasa Thai tibaaaa....!! :)

Bunyi petasan seperti primadona di kuil ini. Masyarakat sekitar banyak "menitipkan" doa mereka melalui Bhiksu Luang Pho Chaem karena dianggap sangat manjur. Mereka lalu mengungkapkan rasa terima kasih atas terkabulnya doa mereka dengan membunyikan petasan sebanyak mungkin di sekitar kuil.

Boleh dibilang Wat Chalong adalah salah satu kuil fave saya karena disini kita bisa merasakan budaya asli masyarakat sekitar. Tidak banyak turis yang datang kesini. Waktu senja, kompleks kuil ini terlihat indah karena dipenuhi dengan lighting yang mewah. Saatnya lanjut ke "Temple of the serene light"!!!

Sunday, October 18, 2009

Tentang Spanish Siesta

Satu hal yang menarik sewaktu perjalanan dinas ke Barcelona, Spain adalah budaya istirahatnya. Siesta adalah budaya tidur siang yang telah menjadi bagian dari tradisi mereka sejak berpuluh tahun lalu. Pada awal abad 20, jam kerja masyarakat Spanyol tak berbeda dari belahan Eropa lainnya. Perubahan terjadi sejak meletusnya Spanish Civil War tahun 1930an. Kondisi perekonomian berubah menjadi sangat mengkhawatirkan sehingga sebagian besar penduduk terpaksa untuk memiliki lebih dari dua pekerjaan tiap harinya dengan jam kerja yang tak beraturan. Mereka mulai bekerja dari pagi hingga jam makan siang diundur disertai dengan tidur singkat setelahnya untuk mengembalikan tenaga yang terkuras.

Ada yang bilang tradisi Siesta sudah ada jauh sebelum Spanish Civil War berlangsung, terbukti dengan keberadaan budaya serupa di beberapa bagian Amerika Latin bekas jajahan bangsa Spanyol. Banyak orang percaya budaya ini adalah akibat dari panasnya udara di siang hari dan juga besarnya porsi makan siang mereka.

Sekarang, kantor-kantor pemerintah di Spanyol sudah tidak menerapkan sistem ini dengan harapan kantor swasta pun dapat meniru contoh mereka. Siesta membuat jam kerja menjadi sangat panjang dan kurang efisien. Pekerja harus mulai kerja pagi, istirahat siang jam 2-5pm, dan kembali bekerja hingga diatas jam 8pm. Selama istirahat tiga jam itu biasanya mereka pulang untuk makan siang bersama dan mengakrabkan diri dengan keluarga masing-masing. Sebagian toko kecil juga masih menganut budaya ini, karenanya kita tak bisa belanja di toko penduduk asli antara jam 2-5pm.

Suasana jalan raya selama siesta

Sebagai efek siesta, kaum Spaniard tak terbiasa dengan tidur sebelum tengah malam. Pemandangan umum bila kita melihat oma-opa sedang makan Tapas di cafe kecil pada jam 3 pagi. Local restaurant baru marak pukul 9pm. Cutback dari siesta ini tidak membuat Spaniard merubah kebiasaan malamnya sehingga bila ditotal jam tidur mereka sangat singkat.

Bagi saya, bekerja disana berarti makan siang yang ditunda. Hiks... Biasanya makan siang jam 12 teng harus menunggu hingga paling cepat jam 1pm. Untungnya day snack dan free-flow coffee selalu menanti jamahan tangan kelaparan saya di kantin karyawan. Tapi ini hanya berlaku untuk kami, para tamu. Makan siang disana bagaikan surga makanan penuh nutrisi dan kaya garam dan olive oil. Resep sukses menuju bludreg.